POTENSI PARIWISATA DI WONOSOBO

PARIWISATA di Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu sektor yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Sebab, daerah ini memiliki banyak obyek wisata yang sangat menarik, baik berupa wisata sejarah, wisata budaya, maupun wisata agro.

Di antara sekian banyak itu, wisata sejarah di dataran tinggi Dieng tetaplah menjadi primadona bagi Wonosobo. Nama Dieng sendiri menurut salah satu versi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu diyang berarti “tempat yang tinggi” atau “gunung”, dan hyang dari kata khayangan yang artinya tempat para dewa-dewi. Maka Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa-dewi bersemayam.

Menurut versi lain, nama Dieng berasal dari bahasa Jawa; yaitu adi yang berarti indah, dan aengyang berarti aneh. Jadi, Dieng berarti tempat yang indah dan penuh dengan keanehan.

Terlepas dari asal usul katanya, Dieng memang menyajikan pesona alam yang luar biasa. Di atas gunung, terdapat komplek candi. Dieng merupakan sebuah desa di wilayah Kecamatan Kejajar dan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah utara kota Wonosobo. Jalannya berbelok-belok dan menanjak, yang diwarnai aneka tanaman sayuran di kanan kiri jalan.

Seperti pegunungan lainnya, suhu udara di Dieng sangat dingin, bisa mencapai 15 derajat C di siang hari, dan 10 derajat di malam hari. Di kawasan ini banyak terdapat kawah aktif. Dari kejauhan, kawasan Dieng tampak seperti puncak gunung yang patah sehingga menyisakan dataran dengan banyak kawah. Itulah sebabnya Dieng dinamai Plateau yang berarti dataran di atas pegunungan.

Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu kawasan pariwisata andalan Kabupaten Wonosobo. Di tempat ini terdapat berbagai obyek wisata, terdiri atas obyek-obyek wisata alam dan budaya berupa peninggalan masa lampau berupa candi-candi dan benda-benda arkeologi lainnya.

Dieng Plateau dikelola oleh dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Garis batas pemisah antara keduanya tepat membelah Dieng Plateau. Karena itu, obyek-obyek yang ada di sana juga terbagi dua—ada yang masuk ke wilayah Wonosobo, dan ada yang masuk wilayah Banjarnegara.

Karena kondisi geografisnya yang sedemikian rupa, Dieng Plateau lebih mudah dijangkau dari Wonosobo. Terlebih lagi, kemungkinan besar arah wisatawan lebih banyak dari timur, seperti Semarang, Magelang, ataupun Yogyakarta. Oleh sebab itu, untuk mencapai Dieng, wisatawan hanya tinggal menuju ke utara, yang jaraknya kira-kira hanya 26 km.

Kawasan Dieng Plateau merupakan area gunung yang masih aktif. Di sini terdapat banyak kawah yang setiap saat mendidih dan mengeluarkan asap putih tebal dengan aroma khas belerang. Salah satu yang terkenal yaitu kawah Sikidang. Selain itu, ada kawah Candradimuka dan Sileri. Kawah-kawah tersebut, di samping sebagai tempat wisata, juga digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Untuk menjangkau obyek-obyek utama di Dieng Plateau, dapat ditempuh dengan jalan kaki. Sambil jalan-jalan, wisatawan dapat melihat bekas-bekas peninggalan masa lalu dan kekuatan alam, berupa bukit-bukit yang merupakan gunung berapi aktif.

Untuk memudahkan wisatawan memperoleh gambaran lengkap mengenai obyek wisata di Wonosobo, di kawasan ini juga dibangun Dieng Plateau Theater (DPT). DPT merupakan sarana wisata berupa bioskop yang materinya berupa informasi peristiwa alam Dieng, seperti peristiwa Sinila tahun 1979. Sarana ini digagas oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu, H. Mardiyanto.

Kapasitas tempat duduknya sebanyak 100 kursi. Di sekitarnya dilengkapi dengan taman dan tempat untuk bersantai. Dari sana, tampak rangkaian pegunungan, seperti Gunung Prahu, Juranggrawah, Pangonan, Sipandu, Nagasari, Pangamun-amun, dan Gajah Mungkur.

Sarana tersebut cocok sekali bagi wisatawan yang ingin mengetahui peristiwa alam di Dieng dan budaya masyarakat sekitarnya. Sebagai tujuan wisata bagi para pelajar juga sangat baik. Selama ini DPT terbukti mampu memberikan nuansa wisata alam dan pendidikan bagi pengunjungnya.

Sebelum sampai di dataran tinggi Dieng, wisatawan dapat melepas lelah di gardu pandang, pada ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Dari atas gardu pandang, kita dapat menikmati pemandangan yang sangat indah, dan di pagi hari dapat pula melihat matahari terbit dengan cahaya keemasan atau dengan istilah golden sunrise. Dari sini perjalanan dapat dilanjutkan menuju dataran tinggi Dieng untuk menyaksikan terbitnya matahari yang kedua dengan cahaya yang keperak-perakan (silver sunrise).

Candi  Dieng

Candi-candi yang berada di Dieng dibangun sebagai tempat pemujaan bagi dewa Siwa dan Sakti Siwa, merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu- Siwa. Candi-candi di daerah ini letaknya tersebar, namun ada satu kelompok yang berjumlah lima candi. Kelompok ini dinamai Candi Pendawa, yang terdiri atas Candi Semar, Arjuna, Srikandi, Sembadra, dan Puntadewa. Tidak jauh dari Candi Pendawa, tampak Candi Gatutkaca yang terletak di atas bukit Pangonan.

Sedangkan Candi Dwarawati terletak di kaki Gunung Perahu. Ada juga Candi Bima, terbesar di kawasan ini. Kalau Candi Pendawa terletak di tengah dataran yang luas, candi-candi lain agak saling berjauhan. Letaknya terpisah, dan di sekitarnya dikelilingi pepohonan, terutama akasia.

Tak jauh dari Candi Dieng, terdapat Telaga Warna. Dinamakan demikian karena telaga tersebut memantulkan aneka warna yang indah.  Di sampingnya terdapat Telaga Cermin yang sesekali memantulkan cahaya berkilauan. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh kandungan mineral di dalamnya. Memang telaga-telaga tersebut terletak tidak jauh dari beberapa kawah yang mengeluarkan bahan-bahan mineral dari dalam bumi. Namun, pantulan warna ini tidak selalu nampak, apalagi ketika cuaca redup—meskipun begitu, pemandangan dan suasana di tempat ini tidak akan pernah ditemui di tempat lain.

Di tepi Telaga Warna terdapat beberapa gua kecil. Salah satu di antaranya adalah Gua Semar. Panjangnya sekitar empat meter dengan dinding batu, dan dapat digunakan untuk bermeditasi. Ada gua lain di sampingnya, yaitu Gua Sumur dan Gua Jaran. Di dalam Gua Sumur terdapat sumber air suci yang disebut Tirta Prawitasari.  Di lokasi inilah umat Hindu biasanya mengadakan upacara ritual yang disebut Muspe atau Mubakti. Di samping gua-gua kecil tersebut, juga terdapat kawah Sikendang. Dinamai demikian karena kadang-kadang mengeluarkan bunyi seperti kendang.

Selain Dieng, Wonosobo masih memiliki obyek-obyek wisata lain, seperti obyek wisata alam, wisata budaya, wisata agro, dan sebagainya. Untuk wisata alam, Wonosobo memiliki Agro Wisata Tambi yang terhampar luas di lereng Gunung Sindoro, dengan ketinggian 1.200 – 2.000 meter di atas permukaan laut. Suhu udara rata-rata minimal 15 derajat C, dan suhu maksimal 24 derajat C.

Agrowisata ini dikelola oleh perusahaan swasta, PT Tambi, yang mengelola tiga unit perkebunan di Bedakah, Tanjungsari, dan Desa Tambi; seluas 829 hektar. Kawasan ini dilengkapi fasilitas pondok wisata, kolam pemancingan, lapangan tenis, taman bermain, kebun, dan parik teh. ”Agrowisata Tambi menjadi pilihan bagi wisatawan untuk rekreasi. Wisatawan yang  ingin ke Gunung Dieng, menginapnya di Agrowisata Tambi. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh,” kata Bambang, pengelola agrowisata Tambi.

Wisatawan yang mengunjungi Tambi akan diajak berkeliling menelusuri jalan di kebun teh, berolahraga sambil menikmati pemandangan, juga mendapat penjelasan mengenai agronomi, pengolahan dan pemasaran. Bagi pengunjung yang ingin bermalam juga disediakan pondok wisata dengan fasilitas yang cukup memuaskan.

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan,  ke depan pembangunan sektor pariwisata ini dapat lebih diprioritaskan dan dikembangkan, sehingga memperkuat posisi Kabupaten Wonosobo sebagai daerah tujuan wisata yang berskala nasional maupun internasional.

Beraneka ragamnya obyek wisata di Wonosobo tentu berimbas pula pada makin tumbuh suburnya industri penunjang. Pelaku usaha penunjang pariwisata di Kabupaten Wonosobo meliputi usaha perhotelan, restoran, dan rumah makan.

Untuk penginapan, sebagian besar hotel tersebut terletak di dalam kota Wonosobo. Dengan demikian, ketika menginap di hotel tersebut, wisatawan dapat menikmati suasana kota Wonosobo sambil jalan-jalan. Selain itu, di sudut selatan lapangan kota Wonosobo juga terdapat pusat informasi bagi wisatawan yang memudahkan untuk menuju tempat yang dikehendaki.

 

PRODUK-PRODUK PARIWISATA WONOSOBO

  1. Kawasan Air Panas Kalianget

Kawasan Air Panas Kalianget, tepatnya di Jalan Dieng Km. 3, Kalianget, Wonosobo. Taman rekreasi dan olah raga yang berada dalam satu kompleks, dengan fasilitas yang ada saat ini kolam renang, lapangan tenis, lapangan bola, taman bermain, hutan kota dan pemandian air panas.

Wilayah produksi                             :Kalianget Wonosobo

Ketersediaan lahan                         : 6 ha

 

  1. Telaga Menjer

Merupakan danau/telaga vulkanis, terletak 12 km dari Kota Wonosobo, tepatnya di Desa Maron Kecamatan Garung. Saat ini, Telaga Menjer dimanfaatkan untuk PLTA, budidaya ikan nila dan sebagai obyek wisata. Didukung pemandangan alam yang indah, udara yang sejuk, serta lingkungan perdesaan yang masih tradisional, menjadikan Telaga Menjer prospektif untuk dikembangkan sebagai obyek wisata alam dan air. Sarana prasarana penunjang pariwisata yang dibutuhkan antara lain penginapan (hotel/resort/cottage), camping ground dan restoran/rumah makan.

 

  1. Waduk Wadaslintang

Waduk Wadaslintang merupakan waduk terbesar di Asia Tenggara, dengan luas genangan 3.000 ha. Terletak di wilayah perbatasan, yaitu Kabupaten Kebumen dan Wonosobo. Letaknya sangat strategis, karena berada di jalur selatan Jawa Tengah. Selain pembangkit listrik, irigasi dan transportasi air dan budidaya ikan nila, dengan karamba jaring apung, juga dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Melihat potensi dan letaknya yang sangat strategis, Waduk Wadaslistang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek wisata alam, pendidikan dan wisata maupun olah raga air. Sarana prasarana penunjang pariwisata yang dibutuhkan antara lain penginapan (hotel/resort/cottage), camping ground, dermaga apung dan restoran/rumah makan pancing, serta fasilitas olah raga air.

  1. Kawasan Kledung Pass

Kawasan Reco – Kledung merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dengan Temanggung, terletak di lereng Gunung Sindoro – Sumbing, dengan ketinggian 800 – 2.000 dpi dan suhu udara 12-24° C. berada di jalur Semarang – Temanggung – Wonosobo – Purwokerto atau dari Yogyakarta – Magelang – Temanggung – Wonosobo – Purwokerto, yang merupakan jalur tengah, yang menghubungkan wilayah utara dengan selatan Jawa Tengah. Setiap hari tidak kurang 700 – 1.000 kendaraan melintasi jalur tersebut. Sebagai bentuk kerja sama antar daerah, Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama-sama Pemerintah Kabupaten Temanggung, yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, berencana mengembangkan kawasan perbatasan tersebut, menjadi suatu kawasan wisata, dengan paket wisata yang ditawarkan antara lain nature vacation, adventure vacation, green tour, bio tour, olahraga atau sekedar melepas lelah berkendaraan dan lain-lain.

  1. Pemandian Air Panas

Kondisi geologis Wonosobo, sebagai daerah yang terletak di sekitar gunung api muda juga menjadikan Wonosobo kaya akan potensi sumber air panas alami, dengan suhu dan kandungan kadar belerang yang berbeda-beda. Beberapa potensi yang sudah dimanfaatkan antara lain

  1. Sumber Air Panas Campursari, terletak di Desa Campursari Kecamatan Kejajar, dengan luas lahan 2.500 m2. Berada 6 Km di sebelah barat Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng atau 31 Km dari Kota Wonosobo
  2. Pemandian Air Panas Kalianget, berada di Dusun Kalianget Desa Somogede Kecamatan Wadaslintang, dengan luas lahan 2.000 m2 dan masih dapat dikembangkan menjadi 1 Ha. Berada 38 Km di barat daya Kota Wonosobo atau 13 Km dari Waduk Wadaslintang
  3. Sumber Air Panas Kebrengan, terletak di Desa Kebrengan Kecamatan Mojotengah, berada di utara Kota Wonosobo, dengan jarak 6,5 Km
  4. Sumber Air Panas Siwadas dan Tegalsari, terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Garung, dengan jarak tempuh dari Kota Wonosobo 8,5 Km
  5. Sumber Air Panas Diwek, terletak di Dusun Diwek Desa Sitiharjo Kecamatan Garung, dengan jarak tempuh dari Kota Wonosobo 8 Km
  6. Sumber Air Panas Siwuran, terletak di Desa Siwuran Kecamaran Garung, jarak dari Kota Wonosobo 9,8 Km atau 1 Km dari Gerbang Wisata Garung
  7. Sumber Air Panas Kebondalem, terletak di Dusun Kebondalem Desa Sukorejo Kecamatan Mojotengah, dengan jarak dari Kota Wonosobo 5 Km.

Dari potensi sumber air panas tersebut di atas, sebagian besar baru dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pemandian umum tanpa pengelolaan yang terorganisir, baik oleh Dinas Pariwisata maupun oleh desa lokasi sumber air panas tersebut. Hanya Pemandian Air Panas Kalianget yang sudah dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo, namun juga belum optimal, dengan sarana prasarana yang sangat terbatas.

Sumber-sumber air panas tersebut sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pemandian air panas yang lebih representatif, dengan sarana prasarana yang memadai, sebagai pendukung pariwisata di Kabupaten Wonosobo, mengingat Wonosobo terkenal dengan daerah dingin.

  1. Obyek wisata Alam yang terdapat di Kawasan Dieng :

Rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Dieng tiap tahunnya adalah 81.260 orang, yang terdiri 12.029 wisatawan manca dan 70.051 wisatawan dalam negeri, namun kebanyakan kunjungan tersebut hanya bersifat wisata singkat, tanpa disertai menginap. Hal ini disebabkan karena minimnya fasilitas penunjang daya tarik pariwisata (amenitas), terutama penginapan yang representatif.

Obyek wisata Alam yang terdapat di Kawasan Dieng antara lain :

–          Telaga Warna,

Telaga memantulkan aneka warna yang sangat indah , disampingnya terdapat pula Telaga Pengilon yang berkilau seperti cermin. Di dekat dua telaga ini ada komplek gua yang sarat nilai budaya yaitu Gua Semar, Gua Sumur dan Gua Jaran yang sering digunakan untuk meditasi. Ada pula Gua Sumur yang di dalamnya ada sumber mata air suci yang disebut “Tirta Prawitasari” yang sering digunakan umat Hindu dalam upacara Mabakti.

telaga warna

–           telaga pengilon

–          Kawah Sikidang

kawah sikidang

–          Tuk Bimo Lukar

Tuk Bimo Lukar merupakan mata air Sungai Serayu. Menurut legenda, nama Bimo Lukar, dimaksudkan sebagai tempat dimana sang Bhima Sena melukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Diyakini dapat menjadikan awet muda, apabila seseorang mencuci muka/mandi di lokasi mata air tersebut. Letak lokasi di pinggir Ruas Jalan Wonosobo – Dieng, tepat di pintu masuk Kawasan Wisata Dieng.

–          Air Terjun Sikarim

air terjun si karim

–          Gua Lawang

–          Yang tak kalah menariknya lagi kita dapat melihat double sun rise di pagi hari dan sunset pada waktu sore hari, tepatnya di desa Sembungan, Kecamatan Kejajar.

–          Gardu Pandang di Desa Tieng, Kejajar.

–          Dieng Plateau Theater

Terletak di lereng Bukit Sikendil Desa Dieng Kecamatan Kejajar, Menjadi pusat interpretasi wisata dan budaya Dieng. Berkapasitas 100 kursi lengkap dengan perangkat audio visual tentang Dieng. Pengunjung bisa menyaksikan pemandangan Dieng dari plataran gedung dan di dalam teater diputar film tentang Dieng dan kekayaan alamnya

pintu masuk kawasan dieng

  1. Agrowisata Tambi

PT. Perkebunan Tambi memiliki 3 Unit Perkebunan (UP), yaitu UP Bedakah, UP Tambi, UP Tanjungsari

Luas HGU                    : 778,43 ha

Luas HGB                     : 7,4 ha

Bidang Usaha             : Perkebunan Terpadu dengan Pengolahannya

Jumlah Karyawan     : 1.200 orang

PT. Perkebunan Tambi mampu menghasilkan 1.900 ton teh kering/tahun, dengan pemasaran 70 % ekspor (dengan negara tujuan Inggris, Jerman, Polandia, Rusia, Mesir, Irak, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada dan Cili), dan 30 % untuk pasaran lokal.

Saat ini PT. Perkebunan Tambi sedang mengembangkan potensi keindahan dan daya tarik alam perkebunan sebagai wisata dengan nama AGROWISATA PERKEBUNAN TEH TAMBI.

Paket Outbond Agrowisata Tambi merupakan wahana wisata olahraga yang sarat nilai-nilai edukasi.

Dilaksanakan di kawasan wisata Agrowisata Tambi lengkap dengan tea walk dan kunjungan ke pabrik teh Tambi

 

  1. Curug Winong (Terletak di kawasan Selomanik Kaliwiro-Kalibawang )
  2. Wisata Religi

Wisata religi kebanyakan dilakukan dalam bentuk prosesi ziarah atau biasa disebut tour wali, salah satunya di makam Ki Ageng wonosobo yang konon banyak disebut-sebut sebagai cikal bakal raja-raja mataram islam

Akan banyak orang yang tidak percaya bahwa Trah Raja Mataram Islam bermula dari sebuah daerah yang bernama Kabupaten Wonosobo tepatnya di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto. Di sanalah Situs Makam Ki Ageng Wonosobo berada yang saat ini menjadi salah satu Obyek Wisata Ritual Kabupaten Wonosobo. Lepas dari pro kontra siapa sebenarnya Ki Ageng Wonosobo ini namun yang jelas nama beliau yang sama dengan Kabupaten Wonosobo menunjukkan bahwa di wilayah Wonosobo pada abad 14 M telah ada kehidupan sosial kemasyarakatan.
Ki Ageng Wonosobo dikenal pula dengan nama Ki Ageng Dukuh, sedangkan di Desa Plobangan lebih dikenal dengan nama Ki Wanu atau Ki Wanuseba. Menurut saya perbedaan nama ini lebih cenderung disebabkan dialek daerah tersebut terpengaruhi oleh dialek Banyumas.
Siapa Ki Ageng Wonosobo atau Ki Ageng Dukuh ini? Beliau merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit terakhir dan merupakan putra dari Raden Bondan Kejawen (Lembu Peteng) putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih. Nawangsih sendiri adalah putri dari Ki Joko Tarub yang menikah dengan Dewi Nawangwulan (epos Joko Tarub). Secara trah keturunan, Ki Ageng Wonosobo masih Sayid atau keturunan Nabi Muhammad SAW karena Ki Joko Tarub adalah putra dari Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari Trah Hendramaut.

Dalam hubungannya dengan berdirinya Mataram Islam, Ki Ageng Wonosobo berputra Pangeran Made Pandan yang dibeberapa literatur yang saya baca merupakan nama lain dari Ki Ageng Pandanaran pendiri Kota Semarang pada era Demak Bintoro. Pangeran Made Pandan berputra Ki Ageng Saba. Ki Ageng Saba ini ada kemiripan dengan Ki Ageng Wonosobo namun tidak jelas apakah keberadaan Ki Ageng Saba ada kaitannya dengan Wonosobo tempo dulu.
Selanjutnya, Ki Ageng Sobo mempunyai seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Pemanahan yaitu Nyi Ageng Pemanahan yang merupakan Ibu dari Sutowijoyo atau lebih dikenal dengan Panembahan Senopati ing Alogo Syekh Sayyidina Pranoto Gomo (Panembahan Loring Pasar ?)pendiri Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede Yogyakarta. Dari Penembahan Senopati ini turunlah trah Ki Ageng Wonosobo menjadi raja-raja Mataram Islam sampai dengan era Kasunan, Ngayogyakrto Hadiningrat, dan Mangkunegaran sekarang ini.
Situs makam beliau saat ini telah dipugar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo dan dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Lokasi Situs makam ini sangat dihormati oleh masyarakat dikarenakan Ki Ageng Wonosobo merupakan tokoh penyebar Agama Islam dan sekaligus cikal dari Desa Plobangan Selomerto. Di sekitar makam Ki Ageng Wonosobo terdapat tiga makam kuno lain yang dipagar. Kono ketiga makam ini juga para pendahulu yang merupakan Ulama di era yang sejaman dengan Ki Ageng Wonosobo. Salah satunya adalah Kyai Chotik yang makamnya berada di bawah pohon beringin yang sangat tua dan besar. Diameter pohon beringin ini sekitar 4 meter (mengingatkan saya dengan pohon beringin di Ibu Kota Mataram Kota Gede Jogja) dan makam Kyai Chotik dikelilingi oleh akar pohon beringin tersebut. Makam Kyai Chotik sendiri hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari Makam Ki Ageng Wonosobo.
Keberadaan situs Ki Ageng Wonosobo ini semakin menguatkan bahwa pada abad 14 M  Wonosobo sudah mempunyai peran yang cukup penting dalam pengembangan Agama Islam sekaligus mungkin sudah mempunyai pemerintahan di tingkat kecil (mungkin pedukuhan). Yang jelas ketepatan sejarah dari Ki Ageng Wonosobo yang dimakamkan di Desa Plobangan Kecamatan Selomerto ini perlu ditelaah lagi dengan seksama namun beberapa waktu lalu konon pihak Keraton Jogjakarta sudah memasukkan makam ini dalam salah satu situs Punden Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.Wallahu

Alam(Sumber : Majalah ASRI Wonosobo, penulis Bimo Jatining Jati)

 

  1. Rekreasi dan Olah Raga, seperti Pemandian Kalianget, Gelanggang Renang Mangli, Arung Jeram Sungai Serayu, Outbond Agro Wisata Tambi.

Adalah Pemandian Alam dengan air berlimpah dan sangat jernih. Selain untuk olah raga renang, air yang berasal dari mata air ini diolah dan dimanfaatkan pula sebagai air minum mineral

Mangli berasal dari kata “Semang” dan “Ngili” yang diambil dari kalimat “Arep Adus bae Semang Ngili “ (Mau mandi saja harus ke lembah mata air) yang diucapkan oleh seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani saat itu yakni Ki Tuntang.

Mangli terletak di Kelurahan Kejiwan Kecamatan Wonosobo sekitar 1 km sebelah Barat Kota Wonosobo.

 

  1. Disamping Obyek Wisata, Potensi Kesenian dan Budaya di Wonosobo juga sangat banyak :
  • Jumlah Kesenian di Wonosobo s/d th 2011 adalah 1578 grup kesenian
  • Kesenian yang menjadi Icon a. l :

–          Tari Sindhung Lengger

–          Kuda Kepang

–          Tari Lengger

pesona tari lengger

  • Ritual Khas Wonosobo :

–          Ritual Ruwatan Rambut Gembel

–          Ritual Hak-hakan

–          Ritual Undhuh-undhuhan

–          Ritual di Bulan Syuro (Nyadran Giyanti)

–          Ritual Birat Sengkala

–          Festival Balon Tradisional

 

  • Tarian Khas/kesenian Wonosobo :

–          Lengger

–          Sindhung Lengger

–          Kuda Kepang

–          Tari Topeng

–          Angguk

–          Tek-tek

PELANTIKAN PENGURUS

GTPengurus Asosiasi PSSI Kabupaten Wonosobo periode tahun 2016-2020 akhirnya dilantik ...

PELANTIKAN PEJABAT E

Telah di laksanakan pelantikan pejabat struktural dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten ...

kapolres ucp selamat

PERINGATAN HUT TNI K

Peringatan HUT TNI ke 70 dan HUT Kodam ...

saka wira kartika nonton jend sudirman

TNI, POLISI DAN SANT

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI Ke-70, yang ...

ucapan selamat

ANGGOTA KODIM WONOSO

Sedikitnya 24 prajurit KODIM 0707 ...