MAHASISWA HARUS FAHAM BAHAYA RADIKALISME

 

Penyebab munculnya gerakan radikali disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pemahaman yang agama kurang dan hanya harfiah.  Demikian pembukaan diskusi dalam rangka sosialisasi deradikalisasi dikalangan mahasiswa Unsiq Wonosobo Oleh Komandan Kodim 0707/Wonosobo Letkol Czi Fauzan Fadli, SE bertempat di pendopo kecamatan Mojotengah. (4/6)

Lebih lanjut Fauzan Fadli, SE menambahkan dengan kurangnya ilmu agama yang dimiliki atau memahami hanya sekilas sehingga mereka khususnya para generasi muda (mahasiswa) yang sedang mencari jati diri diberi masukan oleh kelompok – kelompok tertentu dengan memberikan pemahaman yang salah tentang tauhid, sehingga mereka menjadi salah dalam penafsirannya.  Jika sudah salah dalam penafsirannya maka mereka akan berbuat seperti yang mereka mengerti.

Ditambah lagi mereka memasukkan bahwa kita saat ini harus bergerak secara keras, sesuai jiwa muda mereka.  Melihat permasalahan yang terjadi dilapangan mengganggap apa yang terjadi itu merupakan kemungkaran dan kemungkaran harus segera diberantas.  Dalam membrantas ini sesuai jiwa muda maka harus dengan tindakan.  Inilah ya

ng membuat kesalahan fatal yang terjadi saat ini.

Dihembuskan lagi masalah penafasiran jihad yang salah.  Ini merupakan cara yang paling efektif dalam melancarakan aksi mereka.  Generasi muda yang masih lugu dijadikan tumbah untuk meledakan salah satu sasaran dengan iming – iming sebagai orang islam harus berani mengorbankan diri untuk kepentingan agama, jika meninggal maka menurut mereka akan langsung masuk sorga dan dijemput oleh para bidadari.  Padahal yang menyuruh belum tentu mau mengorbankan dirinya sendiri.

Lebih lanjut Dandim menambahkan menurut para kelompok tersebut bahwa NKRI bukan negara Islam. Sehingga Indonesia harus dirumbah menjadi negera Islam.  Itu tidak akan bisa terjadi karena Bangsa Indonesia berdiri dan mereka merupakan perjuangan rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan budaya serta adat istiadat yang sangat komplek. Jika itu semua disatukan dengan syariat Islam maka tidak mungkin terwujud.

Pesan yang dititipkan oleh Komandan Kodim adalah bahwa para mahasiswa merupakan generasi penerus negerai ini. 10 – 30 tahun yang akan datang merekalah yang akan memimpin negeri ini.  Untuk itu bekali diri dengan ilmu yang benar, belajar agama jangan dari satu sumber saja akan tetapi dari banyak sumber sehingga bisa dijadikan refrensi.  Jika para generasi muda sudah faham akan ajaran yang benar maka nanti pada saatnya dalam memimpin negeri ini NKRI akan tetap

 berdiri dan tambah jaya.  Apalagi bangsa Indonesia dianugrahi begitu banyak kelebihan seperti jumlah penduduk kekayaan alam dan sebagainya.  Kita sebagai penerus tinggal meneruskan saja.

Ingat bahwa hasil survai yang dilakukan oleh beberapa lembaga mengenai radikalisme hasilnya sangat mengejutkan yaitu bahwa 23,4% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA telah terpapar dengan paham radikal. Soalnya, mereka setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Dan 23,5% mahasiswa dan 16,3% pelajar menyatakan bahwa negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan agama secara kaffah. Lalu, ketika ditanya tentang peraturan daerah (perda) syariah. Ada 21,9% pelajar dan 19,6% mahasiswa setuju perda syariah untuk mengakomodasi penganut agama mayoritas.  Ini merupakan peringatan bagi kita semua.

Eko Riyanto dari Kesbangpol selaku penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan deradikalisasi untuk para mahasiswa sangat penting dilaksanakan.  Apalagi baru saja di Universitar Riau telah ditemukan rangkain bom yang dibuat oleh mahasiswa.  Semoga kejadian tersebut tidak melanda atau menerpa Wonosobo.

 

Pendim0707/Wonosobo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *