Tradisi Ruwat Rambut Gimbal Harus Dilestarikan

Letkol Agus M Latif memotong rambut gimbal
Letkol Agus M Latif memotong rambut gimbal

DSC_0070Sebanyak 11 anak dari pedesan di kawasan pegunungan dieng menjalani ritual pemotongan rambut gimbal. Proses ritual tahunan tersebut dihelat di pinggir telaga sembungan dieng. Sebelum dicukur, mereka diarak dalam pawai budaya, sedangkan rambut gimbal yang telah dipotong  dilarung di telaga cebong.  Kegiatan cukur rambut gimbal ini merupakan rangkaian kegiatan hari jadi kota Wonosobo ke 190 bertempat di Desa Sembungan Kejajar.

Cukur rambut gimbal ini dihadiri Muspida Wonosobo.  Dandim 0707/Wsb Letkol Inf Agus M Latif, S.IP berkesempatan untuk memotong rambut gimbal atas nama Ummu Sundya dengan permintaan ayam 2 ekor dan buntil.

Proses ritual yang dihelat dalam rangka peringatan hari jadi kabupaten wonosobo ke-190 tersebut menjadi cukup istimewa lantaran dihadiri group banda legendaris Slank yang memilki ribuan fans di indoensia. Salah satu personel Slank, Bim Bim, mengaku takjub dengan adanya tradisi ini, dia mengaku  dulunya bersama Kaka juga pernah berambul gembel dan  tidak menyangka ada tradisi yang memberikan penghargaan bagi anak-anak berambul gembel dan oleh warga setempat dikemas menjadi atraksi budaya yang cukup menarik serta layak untuk dilestarikan.

“ Ini luar biasa, rambut gembel yang identik dengan orang urakan, namuan disini justru sebaliknya, ada penghormatan terhadap budaya lokal,” ucapnya.

Oleh karenanya, ia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan di wilayah Wonosobo, Dieng pada khususnya, agar bisa memelihara tradisi ini dengan baik. Syukur-syukur bisa dikembangkan melalui kemasan yang menarik sehingga bisa dijual sebagai agenda pariwisata ke Mancanegara.

Bupati Kholiq Arif, mengungkapkan pihaknya siap mewujudkan apa yang diharapkan Slank, sembari meminta kepada aparat Desa dan Kecamatan setempat bisa bersinergi dengan pihak terkait seperti Kantor Pariwisata, Seni dan Ekonomi Kreatif, Dipenda serta BKSDA, sehingga tradisi ini bisa lebih menarik dan rutinitasnya bisa lebih terjaga.

Menurutnya  ruwat cukur rambut gembel yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-190 Kabupaten Wonosobo ini, menjadi sebuah momentum yang sangat tepat, mengingat tradisi ini adalah salah satu warisan budaya nenek moyang, dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah Wonosobo, yang harus selalu diingat, diuri-uri, dan dilestarikan keberlangsungannya.

Tradisi ini adalah kegiatan ritual untuk meruwat anak berambut gembel yang diyakini merupakan keturunan Kyai Kolodete, salah satu tokoh pendiri Wonosobo. Dan rambut anak gembel ini tidak boleh dipotong sembarangan, harus melalui ritual khusus.

Semua permintaan mereka harus dipenuhi, meskipun permintaan terkesan lucu dan aneh, seperti minta tikus, kambing, sepeda, sayur buntil sampai ada yang minta Ipad, agar rambut gembel yang telah dicukur tidak tumbuh lagi.

Untuk itu, selain sebagai ajang promosi potensi budaya daerah, kegiatan ini, sebagai sarana refleksi diri terhadap para pendiri Wonosobo, khususnya Kyai Kolodete

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *